Tipu daya setan seringkali tidak datang dengan wajah yang kasar. Di kalangan umat Muslim, termasuk pembaca di Medan dan Sumatera Utara, peringatan klasik tentang tipu daya setan masih relevan untuk menjaga kesadaran spiritual sehari-hari. Setan justru kerap meninabobokan manusia agar merasa aman saat berbuat maksiat, mengharap ampunan tanpa penyesalan, atau merasa dekat dengan Allah tanpa ketaatan.
Peringatan itu diungkap ulama terkemuka Yahya bin Mu’adz ar-Razi. Pernyataannya dikutip Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam kitab Nashaihul Ibad. Yahya bin Mu’adz digambarkan sebagai lautan kebenaran, pembimbing ulama, dan penjelajah jalan menuju Tuhan. Ia menilai ada enam tipu daya yang paling besar dan berbahaya bagi manusia.
Harapan ampunan tanpa penyesalan
Menurut Yahya bin Mu’adz ar-Razi, tipu daya terbesar pertama adalah terus-menerus berbuat dosa sambil berharap mendapat ampunan Allah, namun tanpa rasa penyesalan yang sungguh-sungguh. Sikap ini membuat hati terlena. Manusia seolah menunda taubat, padahal pintu ampunan selalu terkait dengan kesadaran untuk berhenti dan memperbaiki diri.
Dalam praktik keagamaan sehari-hari, pola ini bisa muncul ketika seseorang mengandalkan keutamaan bulan tertentu atau amalan musiman, lalu kembali mengulangi kesalahan yang sama. Peringatan ulama ini mengajak umat menyeimbangkan harap kepada rahmat Allah dengan usaha nyata menjauhi maksiat.
Merasa dekat tanpa ketaatan
Tipu daya kedua adalah mengaku dekat kepada Allah tanpa disertai perbuatan taat. Kedekatan yang sejati, dalam pandangan klasik tersebut, tidak cukup diukur dari perasaan atau pengakuan lisan saja. Ia harus dibuktikan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
Bagi masyarakat Muslim di kota-kota besar seperti Medan, kesibukan kerja dan rutinitas sering membuat ibadah terasa formal. Pengingat ini relevan agar rasa “sudah dekat” tidak menggantikan disiplin salat, jujur dalam muamalah, serta menjaga lisan dan pandangan.
Mengharap surga sambil menabur benih neraka
Ketiga, manusia mengharapkan kesenangan surga sambil menyebarkan benih neraka. Maksudnya, ingin masuk surga tetapi tetap melakukan maksiat dan dosa yang justru menjauhkan dari tujuan itu. Keempat, menginginkan kedudukan atau rumah orang yang taat, namun caranya ditempuh dengan perbuatan maksiat.
Kedua poin ini saling berkaitan. Harapan akhirat tidak bisa dipisahkan dari benih amal yang ditanam di dunia. Mengidamkan derajat orang saleh tanpa meniru jalan ketaatan mereka dinilai sebagai tipuan yang menyesatkan diri sendiri.
Pahala tanpa amal dan angan tanpa batas
Kelima, mengharapkan pahala tanpa beramal. Keenam, berangan-angan kepada Allah disertai perbuatan yang melampaui batas. Yahya bin Mu’adz menekankan bahwa angan-angan spiritual yang indah, bila dibarengi pelanggaran, justru menjadi jebakan. Amal tetap menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan.
- Dosa berulang tanpa penyesalan yang tulus
- Klaim kedekatan tanpa ketaatan nyata
- Harapan surga dibarengi maksiat
- Mengejar derajat orang taat lewat jalan salah
- Mengharap pahala tanpa usaha amal
- Angan kepada Allah sambil melampaui batas
Enam perkara di atas, sebagaimana diriwayatkan dalam kutipan Nashaihul Ibad, dipandang sebagai tipu daya setan yang paling besar. Pesannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak umat menjaga keseimbangan antara raja’ (harap) dan amal, antara doa dan disiplin diri.
Bagi pembaca Warta Sumut, renungan ini dapat menjadi bahan muhasabah di tengah aktivitas harian. Menjaga salat berjamaah, memperbanyak istigfar yang diikuti perubahan sikap, serta menahan diri dari maksiat kecil yang dibiasakan, adalah langkah praktis agar tidak terlena oleh jebakan spiritual tersebut. Wallahu a’lam.
Sumber: Republika.

Leave a Reply