Tag: BRIN

  • Model Otonomi Adaptif Dibahas BNPP-BRIN untuk Kawasan Perbatasan

    Model Otonomi Adaptif Dibahas BNPP-BRIN untuk Kawasan Perbatasan

    Pembaca Warta Sumut di Medan dan sekitarnya perlu mencermati arah kebijakan nasional terkait tata kelola perbatasan. Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar audiensi untuk merumuskan model desentralisasi serta otonomi daerah yang lebih adaptif terhadap karakter masing-masing wilayah perbatasan.

    Pertemuan dipimpin Sekretaris BNPP RI Makhruzi Rahman di ruang rapat Sekretariat Tetap BNPP RI, Jakarta, pada Selasa (8/9/2026). Forum itu menjadi ruang saling bertukar pandangan soal kebutuhan pengelolaan yang selaras dengan potensi, tantangan, dan kondisi lokal di garis batas negara.

    Keamanan dan kesejahteraan sebagai dua poros utama

    Menurut Makhruzi, pengelolaan kawasan perbatasan memuat dua dimensi yang tidak bisa dipisahkan, yakni keamanan (security) dan kesejahteraan (prosperity). Persoalan di lapangan dinilai kompleks sehingga tidak mungkin ditangani satu lembaga saja.

    Ia menekankan perlunya keterlibatan lintas kementerian/lembaga serta sinergi nyata antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Koordinasi disebut sebagai kata kunci agar program di wilayah perbatasan berjalan selaras dan tidak tumpang tindih.

    Arah strategis BWN-KP 2025–2029

    Dalam audiensi, dipaparkan arah strategis pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan (BWN-KP) periode 2025–2029. Empat fokus utamanya mencakup pengelolaan batas wilayah negara, pengaturan aktivitas lintas batas, pembangunan kawasan perbatasan, serta penguatan kelembagaan.

    Cakupan kerja mencakup 204 kecamatan perbatasan prioritas, 22 Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN), dan 26 Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Dari total PLBN tersebut, 15 unit sudah terbangun, tiga belum terbangun, sementara delapan lainnya masuk rencana pembangunan gelombang III.

    Pulau terluar dan tantangan pengawasan

    Selain daratan, perhatian juga diarahkan pada 111 Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT). Sebanyak 28 pulau di antaranya mendapat perhatian khusus: 11 tidak berpenduduk dan 17 berpenduduk. Kondisi ini menuntut pendekatan berbeda antara pulau yang berpenghuni dan yang kosong.

    Bagi publik Sumatera Utara, isu perbatasan nasional tetap relevan karena menyangkut kedaulatan, arus orang dan barang, serta integrasi ekonomi antarwilayah. Model yang adaptif diharapkan mencegah pendekatan seragam yang kurang cocok dengan keragaman geografis Indonesia.

    Sinergi riset dan kebijakan daerah

    Kolaborasi BNPP dan BRIN menempatkan riset sebagai dasar perumusan model otonomi yang lebih peka karakteristik lokal. Dengan data dan kajian, kebijakan desentralisasi di kawasan perbatasan dapat disesuaikan tanpa mengorbankan standar keamanan nasional.

    Makhruzi menegaskan bahwa penanganan perbatasan merupakan tanggung jawab bersama pusat dan daerah. Sinergi lintas sektor dinilai mutlak agar pembangunan di kecamatan prioritas, PKSN, dan PLBN memberi dampak kesejahteraan sekaligus memperkuat pengawasan lintas batas.

    Ke depan, hasil pembahasan model desentralisasi adaptif ini diharapkan menjadi rujukan operasional bagi kementerian/lembaga dan pemerintah daerah yang berinteraksi langsung dengan kawasan perbatasan. Publik di Medan dan Sumut dapat mengikuti perkembangan kebijakan ini sebagai bagian dari agenda nasional yang memengaruhi stabilitas dan konektivitas Indonesia secara keseluruhan.

    Sumber: Republika.

    Tag: tata kelola perbatasan, BNPP, BRIN, PLBN, otonomi daerah, kawasan perbatasan, BWN-KP, pulau terluar

  • Proyek Bersama RI dan Australia Uji AI untuk Pantau Risiko Kehamilan di Puskesmas

    Proyek Bersama RI dan Australia Uji AI untuk Pantau Risiko Kehamilan di Puskesmas

    Penguatan layanan primer lewat AI kesehatan ibu menjadi titik temu kerja sama Indonesia dan Australia. Fokusnya jelas: data ibu dan anak yang masih banyak manual digeser ke bentuk digital, risiko kehamilan dipantau lebih rapi, serta pesan edukasi sampai ke masyarakat tanpa menambah beban administratif bidan.

    Pembelajaran lapangan itu dibahas dalam seminar Diseminasi Nasional AI in Health Care Project yang digelar secara hibrida di Lombok Astoria, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Forum mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, dan mitra pembangunan agar pengalaman penerapan AI di layanan ibu-anak tidak berhenti di tingkat proyek percontohan.

    Mitra riset dan tujuan di tingkat puskesmas

    AI in Health Care Project digarap Summit Institute for Development (SUMMIT) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), CSIRO Australia, serta Universitas Mataram (UNRAM). Dukungan kemitraan pengetahuan KONEKSI Australia-Indonesia menjadi payung kolaborasi lintas negara tersebut.

    Titik berangkatnya sederhana namun krusial. Di layanan primer, catatan kesehatan ibu masih kerap ditulis tangan di Buku KIA. Ketika data sulit diolah cepat, pengambilan keputusan bidan dan dokter puskesmas pun bisa terlambat. Proyek ini merancang alur agar data yang sudah ada benar-benar dipakai untuk respons pelayanan, bukan hanya tersimpan di lemari arsip.

    Tiga perangkat yang saling terhubung

    Para mitra merakit tiga komponen teknologi dalam satu rangkaian kerja. Pertama, Bunda Optical Character Recognition (OCR) membantu bidan mengubah tulisan di Buku KIA menjadi data digital sehingga pengetikan ulang berkurang. Kedua, AI Predictive Dashboard mengolah data tersebut menjadi gambaran kondisi kehamilan dan prediksi risiko, sehingga petugas bisa memilah pasien yang perlu perhatian lebih, menyusun prioritas, dan merencanakan tindak lanjut.

    Ketiga, AI Personalized Message membawa manfaat sampai ke ibu hamil. Melalui kanal WhatsApp, sistem mengirim informasi, edukasi, dan pesan kesehatan yang disesuaikan dengan data yang tersedia. Dengan begitu, digitalisasi tidak berhenti di ruang kerja bidan, melainkan menjangkau rumah tangga penerima layanan.

    • Bunda OCR: digitalisasi catatan Buku KIA
    • AI Predictive Dashboard: dukungan keputusan dan prediksi risiko
    • AI Personalized Message: edukasi lewat WhatsApp untuk ibu hamil

    Uji coba di empat kabupaten dan temuan lapangan

    Implementasi dibagikan oleh tenaga kesehatan dari empat lokus: Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Garut. Mereka memaparkan pemakaian harian di fasilitas primer, termasuk hal-hal yang wajib diantisipasi saat AI masuk ke alur kerja puskesmas. Peserta seminar juga menyaksikan demonstrasi berurutan: pemindaian data lewat Bunda OCR, pembacaan dasbor prediksi, hingga pengiriman pesan personal.

    Selain demo, forum memaparkan studi penilaian dampak. Isi kajian mencakup pengalaman pengguna, seberapa jauh teknologi masuk ke proses pelayanan, serta pelajaran praktis dari lapangan. Diskusi panel dan tanya jawab kemudian menyoal kesiapan infrastruktur digital, kapasitas SDM, mutu serta tata kelola data, dan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar AI tidak berdiri sendiri di luar sistem kesehatan.

    Pesan mitra dan relevansi bagi daerah lain

    CEO Summit Institute for Development, Yuni Dwi Setiyawati, menegaskan motivasi proyek: banyak data kesehatan tersebar namun belum dimanfaatkan optimal. Digitalisasi catatan manual dinilai jalan agar tenaga kesehatan memberi respons lebih cepat. Pernyataan itu disampaikan Jumat (28/8/2026) dalam rangkaian diseminasi di Mataram.

    Bagi pembaca di Sumatera Utara, termasuk Medan, model ini menarik sebagai rujukan kebijakan daerah—bukan karena proyek beroperasi di Sumut, melainkan karena tantangan serupa sering muncul di layanan primer: antrean data manual, keterbatasan waktu bidan, dan kebutuhan edukasi ibu hamil yang berkelanjutan. Pembelajaran dari NTB dan Garut dapat menjadi bahan evaluasi pemda serta dinas kesehatan ketika menimbang investasi digital yang berpihak pada petugas di garis depan.

    Penekanan seminar tetap pada prinsip bahwa AI mendukung, bukan menggantikan, tenaga kesehatan. Kualitas data, etika pemanfaatan, dan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat menjadi syarat agar solusi serupa layak diperluas. Kolaborasi riset, kampus, pemerintah, dan praktisi di lapangan dinilai kunci agar inovasi tidak mandek setelah tahap uji coba.

    Dengan tiga komponen yang terhubung dari digitalisasi hingga pesan ke ibu hamil, proyek Indonesia-Australia ini menawarkan kerangka konkret bagi penguatan pelayanan primer. Evaluasi dari empat kabupaten lokus diharapkan memperkaya perumusan kebijakan AI kesehatan di tingkat nasional maupun adopsi bertahap di daerah lain yang menghadapi beban administratif serupa.

    Sumber: Republika.

    Tag: AI kesehatan, kesehatan ibu, layanan primer, kerja sama Indonesia Australia, Buku KIA, puskesmas, BRIN, Mataram

Blackjack Terlihat Sederhana tetapi Kenapa Keputusan Hit atau Stand Bisa Mengubah Peluang Jackpot Terlihat Semakin Besar tetapi Apa Hubungannya dengan Peluang Mendapatkannya House Edge Kecil Sering Dianggap Menguntungkan tetapi Begini Cara Membaca Angkanya Volatilitas Tinggi dan Rendah Apa Bedanya dan Kenapa Pengalaman Bermain Bisa Berubah Drastis Sudah Banyak Putaran tetapi Bonus Belum Muncul Apa yang Sebenarnya Terjadi RNG Sering Disebut Acak tetapi Bagaimana Sistem Ini Sebenarnya Menentukan Setiap Putaran Simbol Hampir Membentuk Bonus Kenapa Momen Near Miss Terasa Begitu Meyakinkan Bonus Buy Memang Langsung Membuka Fitur tetapi Apa yang Berubah dari Permainan Biasa Kenapa Angka Kemenangan Besar Lebih Mudah Diingat daripada Puluhan Putaran Biasa Autoplay dan Spin Manual Terasa Berbeda tetapi Apakah Mekanismenya Benar Benar Berbeda Blackjack Terlihat Sederhana tetapi Kenapa Keputusan Hit atau Stand Bisa Mengubah Peluang Jackpot Terlihat Semakin Besar tetapi Apa Hubungannya dengan Peluang Mendapatkannya House Edge Kecil Sering Dianggap Menguntungkan tetapi Begini Cara Membaca Angkanya Volatilitas Tinggi dan Rendah Apa Bedanya dan Kenapa Pengalaman Bermain Bisa Berubah Drastis Sudah Banyak Putaran tetapi Bonus Belum Muncul Apa yang Sebenarnya Terjadi RNG Sering Disebut Acak tetapi Bagaimana Sistem Ini Sebenarnya Menentukan Setiap Putaran Simbol Hampir Membentuk Bonus Kenapa Momen Near Miss Terasa Begitu Meyakinkan Bonus Buy Memang Langsung Membuka Fitur tetapi Apa yang Berubah dari Permainan Biasa Kenapa Angka Kemenangan Besar Lebih Mudah Diingat daripada Puluhan Putaran Biasa Autoplay dan Spin Manual Terasa Berbeda tetapi Apakah Mekanismenya Benar Benar Berbeda