Pertarungan figur untuk kursi Ketum PBNU kembali menjadi perbincangan di kalangan nahdliyin, termasuk warga NU di Medan dan Sumatera Utara yang selalu mencermati arah kepemimpinan organisasi. Irfan Asy’ary Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid, tokoh penggerak NU sekaligus cicit pendiri organisasi, menyampaikan bahwa Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, menyatakan kesiapan untuk dicalonkan.
Pernyataan itu disampaikan Gus Ipang usai berdialog dengan KH Imam Jazuli di Jombang, Ahad (30/8/2026). Menurutnya, kesiapan tersebut muncul dalam percakapan santai saat sarapan pagi, bukan melalui forum resmi pencalonan.
Bukan Ambisi Pribadi, Melainkan Dukungan Struktural
Gus Ipang menekankan bahwa kesiapan KH Imam Jazuli tidak dibaca sebagai hasrat personal belaka. Pencalonan baru dianggap sahih apabila mendapat sandaran dari muktamirin, terutama Pengurus Cabang, Pengurus Wilayah, serta Ahlul Halli wal Aqdi.
Ia menambahkan, langkah itu lebih tepat dipandang sebagai panggilan sejarah agar NU mampu melompat lebih jauh pada abad kedua. Tanpa dukungan basis cabang dan wilayah, wacana pencalonan dinilai tidak akan berjalan.
Empat Alasan Dorongan Gus Ipang
Dalam penilaian Gus Ipang, KH Imam Jazuli layak dipertimbangkan sebagai figur alternatif. Setidaknya ada empat titik yang ia soroti sebagai landasan dorongan tersebut.
- Kemampuan konsolidasi dan rekonsiliasi internal, termasuk komunikasi lintas kelompok tanpa beban konflik masa lalu.
- Agenda kemandirian ekonomi organisasi agar NU tidak terlalu bergantung pada patronase kekuasaan.
- Rekam jejak pengembangan pesantren yang adaptif terhadap digital dan global tanpa meninggalkan watak kepesantrenan.
- Kapasitas diplomasi dan pemahaman geopolitik untuk memperkuat kiprah NU di tingkat internasional.
Keempat poin itu, menurut Gus Ipang, relevan dengan tantangan organisasi yang kian kompleks, dari tata kelola internal hingga peran publik di ruang global.
Pesantren, Ekonomi, dan Wajah NU ke Depan
Pengalaman KH Imam Jazuli menggerakkan pesantren dinilai penting karena basis NU tetap berakar pada lembaga pendidikan tradisional yang harus menjawab perubahan zaman. Di sisi lain, isu kemandirian ekonomi menjadi perhatian karena daya tawar organisasi sering ditentukan oleh ketahanannya mengelola sumber daya sendiri.
Bagi komunitas NU di daerah, termasuk Medan, sinyal figur alternatif biasanya dibaca sebagai peluang menyegarkan diskusi kaderisasi dan arah program, meski keputusan akhir tetap berada di mekanisme muktamar dan struktur formal.
Konteks Mekanisme Pemilihan Tanfidziyah
Kesiapan yang diungkap Gus Ipang muncul beriringan dengan perbincangan soal tata cara pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Wacana nama dan syarat dukungan struktural biasanya menghangat menjelang proses formal, sehingga pernyataan tokoh sekelas Gus Ipang cepat menjadi rujukan percakapan publik.
Sejauh ini, yang ditegaskan adalah kesiapan untuk dicalonkan apabila pintu dukungan PC, PW, dan AHWA terbuka. Bukan deklarasi sepihak, melainkan penegasan bahwa legitimasi tetap digantungkan pada konsensus internal NU.
Dengan demikian, bursa Ketum PBNU kembali mendapat satu nama yang dibicarakan secara terbuka. Nahdliyin di berbagai wilayah, termasuk Sumut, diperkirakan akan menimbang rekam jejak, kemampuan merawat soliditas, serta visi kemandirian yang diusung setiap figur sebelum proses resmi bergulir.
Sumber: Republika.

Leave a Reply