Harga gas Eropa kembali menjadi sorotan pasar energi global setelah kontrak acuan Dutch TTF untuk pengiriman Oktober 2026 menembus 70,85 euro per megawatt-hour (MWh). Angka itu setara sekitar Rp1,44 juta per MWh dengan kurs 1 euro di level Rp20.400. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, pergerakan ini relevan karena Indonesia ikut bermain di rantai pasok LNG dunia, sehingga gejolak harga di Eropa kerap terasa pada sentimen pasar energi regional.
Lonjakan tersebut terjadi di tengah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memperketat arus pasokan. Selat Hormuz, jalur yang selama ini dilalui sekitar seperlima perdagangan LNG global, praktis sulit dilalui akibat konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran. Akibatnya, pasokan LNG ke pasar internasional terancam tersendat tepat saat negara-negara Eropa berlomba mengisi tangki penyimpanan sebelum musim dingin.
Cadangan Uni Eropa Masih Jauh dari Target
Data Gas Infrastructure Europe (GIE) menunjukkan kapasitas penyimpanan gas Uni Eropa baru terisi 64,7 persen. Posisi itu berada di bawah pola rata-rata tahunan yang biasa dicapai pada periode yang sama. Harga pasar yang mahal membuat laju pengisian melambat, sehingga kekhawatiran gagal target semakin kuat di sejumlah negara anggota.
Belanda menargetkan pengisian hingga 80 persen, sementara Jerman mematok 70 persen, keduanya sebelum batas waktu 1 November 2026. Jika tren harga tinggi berlanjut, dua ekonomi besar itu berisiko meleset dari sasaran cadangan resmi mereka.
Selisih Harga Musim Panas dan Dingin Tak Menguntungkan
Struktur harga di pasar gas Eropa saat ini menyulitkan pelaku usaha penyimpanan. Selisih antara harga musim panas dan proyeksi harga musim dingin dinilai terlalu tipis, bahkan sempat negatif. Kondisi itu tidak cukup untuk menutup biaya operasional serta risiko menyimpan gas dalam jangka waktu panjang.
Tanpa insentif harga yang memadai, pemasok cenderung menahan volume yang masuk ke fasilitas simpan. Dampaknya, tingkat kesiapan stok nasional di beberapa negara tetap rendah meski kalender musim dingin semakin dekat.
Peringatan Industri dari Asosiasi Penyimpanan Jerman
Direktur Asosiasi Penyimpanan Gas Jerman (INES), Sebastian Heinermann, memperingatkan skenario terburuk bila kapasitas simpan yang minim bertemu gelombang dingin ekstrem. Menurutnya, industri dalam negeri bisa terpukul berat karena biaya energi melonjak di luar kemampuan banyak pabrik.
Heinermann menegaskan bahwa perusahaan akan terpaksa memangkas produksi apabila tidak sanggup menanggung lonjakan harga gas. Pernyataan itu memperkuat sinyal bahwa krisis pasokan bukan hanya soal rumah tangga, melainkan juga daya saing manufaktur di jantung ekonomi Eropa.
- Kontrak Dutch TTF Oktober 2026: 70,85 euro per MWh
- Isi penyimpanan gas UE: 64,7 persen (data GIE)
- Target Belanda 80 persen dan Jerman 70 persen sebelum 1 November 2026
- Sekitar seperlima perdagangan LNG dunia lewat Selat Hormuz
Dampak Rantai Pasok dan Pantauan dari Sumut
Gangguan di Selat Hormuz menekan ketersediaan LNG di pasar spot, sehingga harga acuan di Eropa meroket. Negara-negara pengimpor di Benua Biru semakin bergantung pada kargo yang bisa tiba tepat waktu, sementara kompetisi dengan pembeli Asia ikut menajam.
Dari sisi Sumatera Utara, pergerakan harga gas Eropa menjadi indikator yang pantas dipantau pelaku usaha dan pemangku kebijakan energi. Meski tidak mengubah fakta teknis di lapangan Medan secara langsung, volatilitas global sering memengaruhi ekspektasi harga dan keputusan investasi di sektor energi dalam negeri.
Menjelang musim dingin 2026, Eropa menghadapi kombinasi stok di bawah rata-rata, biaya pengisian yang mahal, serta risiko gangguan pasokan dari jalur maritim kritis. Tanpa perbaikan arus LNG dan penyesuaian strategi penyimpanan, tekanan pada rumah tangga dan industri di Belanda, Jerman, serta negara tetangga diperkirakan masih akan berlanjut.
Sumber: Sindo News.

Leave a Reply