Ribuan warga Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih bergulat dengan keterbatasan kebutuhan pokok pascagempa. Lembaga filantropi Sinergi Foundation merespons cepat lewat pemantauan lapangan dan penyaluran bantuan terarah, mulai paket pangan hingga dapur umum. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, langkah ini mencerminkan solidaritas nasional yang tetap relevan di tengah ancaman bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Pada 15–16 Agustus 2026, relawan membagikan 192 paket makanan siap saji di sejumlah titik pengungsian. Lokasi penyaluran mencakup Kampung Koliaduk dan Waidoko di Kecamatan Alok, Kampung Madawat di Kecamatan Alok Timur, serta Kampung Nangahure Bukit di Kecamatan Alok Barat. Fokus awal itu menargetkan warga yang kesulitan mengakses pangan harian.
Pos bantuan dan dapur umum di Nangahure
Respons diperkuat pada Rabu, 19 Agustus 2026, dengan pengaktifan pos bantuan sekaligus dapur umum di Kampung Nangahure, Kecamatan Alok Barat. Pos tersebut difungsikan sebagai pusat intervensi agar distribusi lebih terukur dan warga tidak perlu berpindah-pindah mencari bantuan. Fasilitas ini juga menjadi tempat berlindung serta berkumpul bagi penyintas.
Dapur umum melayani 84 penyintas dan telah menghasilkan 1.260 porsi makanan selama lima hari operasi. Keberadaan dapur ini menekan beban logistik keluarga pengungsi yang rumahnya rusak atau belum layak huni. Pendekatan terpusat memudahkan pencatatan kebutuhan dan menghindari tumpang tindih bantuan di satu kawasan.
Distribusi air bersih serta perlengkapan darurat
Kebutuhan air menjadi prioritas berikutnya. Sinergi Foundation menyediakan 5.000 liter air bersih untuk sekitar 340 jiwa di Kampung Nangahure. Air itu dipakai untuk kebersihan diri dan mencuci, dua aktivitas yang krusial mencegah penyakit di lokasi pengungsian padat.
Sehari kemudian, Kamis 20 Agustus 2026, jangkauan diperluas ke Desa Waturia, Kecamatan Magepanda. Relawan menyerahkan terpal, tikar, dan selimut agar warga dapat merakit tempat tinggal sementara yang lebih aman. Bantuan nonpangan ini melengkapi dukungan pangan dan air yang sudah berjalan di Alok Barat.
Pendampingan spiritual dan psikososial anak
Selain materi, tim memberi penguatan spiritual. Ustadz Muhammad Dong mendampingi penyintas agar tetap tenang dan kuat menghadapi masa pemulihan. Pendekatan ini dinilai membantu meredakan tekanan emosional setelah guncangan dan kehilangan harta benda.
Untuk anak-anak, layanan psikososial sederhana digelar di Kampung Bebeng, Kecamatan Alok Barat, pada Sabtu 29 Agustus 2026. Relawan mengajak bermain serta membagikan bingkisan alat kebersihan berupa sikat gigi dan pasta gigi. Kegiatan ringan itu bertujuan mengembalikan rasa aman anak-anak di lingkungan pascabencana.
Kolaborasi lembaga dan pemantauan lanjutan
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Prof. Waryono Abdul Ghofur, menekankan bahwa tanggap bencana membutuhkan kerja sama banyak pihak. Menurutnya, lembaga zakat tidak menggantikan peran negara, melainkan mempercepat pemulihan warga terdampak. Kolaborasi dianggap kunci agar respons tidak lambat dan tidak tumpang tindih.
Haidar Junda, Kepala Program Pemberdayaan ZIS Sinergi Amil Zakat–Sinergi Foundation, menyatakan tim akan terus memetakan kebutuhan darurat dan lokasi baru. Koordinasi dilakukan dengan relawan lokal, pemerintah, BNPB, BMKG, Kementerian Agama, serta jejaring Forum Zakat dan filantropi Indonesia. Pemantauan disesuaikan perkembangan situasi di lapangan Sikka.
Bagi masyarakat Medan yang ingin mengikuti isu kemanusiaan nasional, pola respons berjenjang—pangan, air, hunian darurat, lalu dukungan psikososial—menjadi contoh praktis kesiapsiagaan komunitas. Sinergi antarlembaga dan data lapangan yang mutakhir tetap menjadi fondasi agar bantuan tepat sasaran bagi penyintas gempa NTT.
Sumber: Republika.

Leave a Reply