Kabut asap Jambi akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman nyata bagi kesehatan warga. Kondisi itu mendorong Anggota DPRD Provinsi Jambi dari Partai Perindo, Efendi Alung, meminta penanganan yang tidak lagi bersifat reaktif semata, melainkan terpadu lintas sektor dan berorientasi jangka panjang. Isu ini juga relevan dipantau pembaca di Sumatera Utara karena pola kabut asap antardaerah di pulau Sumatera kerap saling memengaruhi kualitas udara.
Menurut catatan yang diungkapkan terkait situasi di Jambi, luasan lahan terbakar telah menembus lebih dari 900 hektare. Paparan asap dari sejumlah wilayah, termasuk Muaro Jambi hingga Tanjung Jabung Timur, membuat Pemerintah Kota Jambi mencatat kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Tekanan pada fasilitas kesehatan dan aktivitas harian masyarakat pun semakin terasa.
Krisis Asap dan Dampak pada Kesehatan Warga
Penebalan kabut asap bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi langsung menyentuh daya tahan tubuh penduduk. Anak-anak, lansia, serta warga dengan riwayat gangguan pernapasan menjadi kelompok yang paling rentan. Lonjakan ISPA di Kota Jambi menjadi indikator bahwa paparan partikel asap sudah melewati ambang kenyamanan harian.
Dalam situasi darurat semacam ini, pembagian masker dinilai penting sebagai pelindung sementara. Namun langkah itu tidak cukup bila sumber api dan lahan gambut atau hutan yang rawan tetap dibiarkan tanpa pengendalian yang sistematis. Kesehatan publik membutuhkan kombinasi proteksi individu dan pengurangan emisi asap di lapangan.
Seruan Legislator untuk Pendekatan Menyeluruh
Efendi Alung menekankan bahwa penanganan karhutla harus komprehensif, lintas sektoral, dan berkelanjutan. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam keterangannya pada Rabu, 26 Agustus 2026. Menurutnya, respons darurat perlu dibarengi strategi mitigasi yang tidak berhenti setelah musim kemarau mereda.
Ia menilai pembagian masker hanyalah bagian dari upaya mengurangi dampak langsung ke masyarakat. Tanpa pencegahan dini, penguatan patroli, pemadaman terpadu, serta penegakan hukum yang konsisten terhadap pelaku pembakaran, siklus kabut asap berpotensi berulang setiap tahun dengan biaya sosial dan ekonomi yang semakin mahal.
Sinergi Pusat, Daerah, dan Masyarakat
Sinergi menjadi kata kunci yang digarisbawahi. Pemerintah pusat dan daerah, aparat penegak hukum, dunia usaha, serta elemen masyarakat diminta bergerak dalam satu kerangka kerja yang jelas. Koordinasi antarlembaga diperlukan agar deteksi hotspot, mobilisasi personel pemadam, dan edukasi lapangan tidak berjalan terpisah-pisah.
Dunia usaha, khususnya yang beroperasi di sekitar kawasan rawan, juga diharapkan memperkuat praktik pencegahan di lahan kelolaannya. Di sisi lain, pelibatan masyarakat lokal melalui laporan dini dan patroli partisipatif dapat mempercepat respons sebelum api meluas. Ketegasan hukum tetap dibutuhkan agar efek jera tercipta.
- Pencegahan dan deteksi dini titik api
- Patroli serta pemadaman yang terkoordinasi
- Perlindungan kesehatan warga terdampak
- Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran
Pelajaran bagi Wilayah Sumatera Lainnya
Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, perkembangan kabut asap Jambi menjadi pengingat bahwa karhutla di satu provinsi dapat berimbas pada kualitas udara regional. Kewaspadaan terhadap informasi cuaca dan kualitas udara, serta kesiapan masker di tingkat keluarga, tetap relevan meski pusat kejadian berada di Jambi.
Pemerintah daerah di kawasan tetangga idealnya memperkuat komunikasi lintas provinsi saat musim rawan kebakaran. Data hotspot, arah angin, dan kapasitas pemadaman yang saling dibagikan dapat menekan risiko eskalasi. Transparansi angka lahan terbakar dan kasus kesehatan juga membantu publik menilai seberapa serius respons yang diambil.
Pada akhirnya, desakan Efendi Alung menggarisbawahi bahwa krisis kabut asap tidak selesai dengan seruan sesaat. Dibutuhkan komitmen berlapis—dari kebijakan, anggaran, penegakan aturan, hingga perubahan perilaku di lapangan—agar lahan yang tersisa terjaga dan paru-paru masyarakat tidak terus menjadi korban musim demi musim.
Sumber: Sindo News.

Leave a Reply