Upaya kolaborasi kemiskinan Lampung kembali menguat setelah Wakil Gubernur Jihan Nurlela menerima audiensi Dompet Dhuafa Lampung di ruang kerjanya, Selasa, 1 September 2026. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, pola kemitraan pemerintah daerah dengan lembaga filantropi ini menjadi contoh bagaimana jangkauan bantuan sosial bisa diperluas tanpa mengandalkan anggaran negara semata.
Dalam pertemuan tersebut, Wagub Jihan menekankan pentingnya menyatukan sumber daya Pemprov Lampung dengan komunitas, dunia usaha, dan lembaga filantropi. Ia menilai Dompet Dhuafa Lampung telah bergeser dari sekadar kegiatan amal menuju program pemberdayaan yang berkelanjutan, sehingga dampaknya lebih terasa di tingkat rumah tangga miskin.
Apresiasi pendekatan pemberdayaan berkelanjutan
Jihan Nurlela menyampaikan kebanggaannya atas cara kerja Dompet Dhuafa Lampung yang tidak berhenti pada bantuan sesaat. Pendekatan pemberdayaan dinilai lebih mampu menolong keluarga keluar dari lingkaran kerentanan ekonomi, sekaligus menjaga martabat penerima manfaat.
Transparansi penghimpunan dan penyaluran dana juga disorot sebagai fondasi kepercayaan publik. Menurut Wagub, lembaga filantropi yang akuntabel memudahkan pemerintah daerah membangun kemitraan jangka panjang tanpa keraguan dari masyarakat.
Keterbatasan jangkauan dan peran mitra sosial
Pemprov Lampung mengakui belum mampu menjangkau seluruh persoalan sosial ekonomi warga secara merata. Kolaborasi dengan berbagai pihak dipandang sebagai jalan praktis memperluas cakupan program, terutama di wilayah yang sulit terlayani aparat secara rutin.
Kemiskinan ekstrem masih menjadi salah satu tantangan utama di provinsi itu. Jihan mendorong agar Dompet Dhuafa bersinergi lebih erat dengan Dinas Sosial agar data penerima dan jenis bantuan saling melengkapi, sehingga penyaluran makin tepat sasaran dan tumpang tindih dapat ditekan.
Dukungan kesehatan hingga oksigen sentral rumah sakit
Selain isu kemiskinan, kontribusi Dompet Dhuafa Lampung di bidang kesehatan mendapat apresiasi khusus. Bantuan oksigen sentral untuk RS AKA Medika Sri Bhawono disebut bermanfaat langsung bagi pelayanan pasien. Wagub mengucapkan terima kasih atas nama masyarakat dan berharap kebaikan itu menjadi amal yang terus mengalir.
Sinergi semacam ini memperlihatkan bahwa lembaga filantropi dapat mengisi celah kebutuhan fasilitas kesehatan yang belum sepenuhnya tertutup anggaran daerah, sambil tetap selaras dengan prioritas pemerintah.
Program lapangan dan capaian penerima manfaat
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung, Nandrianto Suparno, memaparkan rentang program yang dijalankan: kesehatan, pendidikan, lingkungan, sosial, dan ekonomi. Di antaranya POS Gerakan Sadar Gizi (GENZI), beasiswa Kantin Kontainer, pengolahan sampah organik Maggotin, DD Farm di Pringsewu, serta pemberdayaan UMKM binaan melalui hilirisasi cabai, bawang, dan kopi di sejumlah daerah Lampung.
- Sekitar 23.000 penerima manfaat di kabupaten/kota se-Lampung
- Dana dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf
- Rasio penyaluran mencapai 85 persen dalam enam bulan terakhir 2026
Nandrianto mengajak instansi pemerintah, perusahaan, dan warga Lampung menyalurkan zakat, infak, serta sedekah melalui Dompet Dhuafa Lampung agar jumlah penerima manfaat terus bertambah. Model penghimpunan dan penyaluran yang terukur itu bisa menjadi rujukan praktis bagi daerah lain, termasuk di Sumatera Utara, yang juga menghadapi tantangan kemiskinan dan ketimpangan akses layanan.
Dengan sinergi yang diperkuat antara Pemprov Lampung dan Dompet Dhuafa, penanganan persoalan sosial ekonomi diharapkan tidak lagi berjalan terpisah-pisah. Kolaborasi yang transparan, berorientasi pemberdayaan, dan tersambung ke dinas terkait menjadi kunci agar bantuan benar-benar menyentuh keluarga yang paling membutuhkan.
Sumber: Republika.
