Presiden Prabowo Subianto meminta Tentara Nasional Indonesia menyiapkan tim khusus karhutla agar personel bisa menjangkau lokasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan yang sulit dicapai regu darat biasa. Arahan itu disampaikan saat memimpin rapat koordinasi penanganan di Palembang pada Senin. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, perkembangan di Sumsel penting dipantau karena kabut asap lintas provinsi kerap menjadi isu regional di musim kemarau.
Dalam rapat tersebut, kepala negara menanyakan langsung kepada Panglima TNI kemungkinan uji coba pengerahan Tim Alfa di wilayah terdampak. Unit taktis itu diharapkan memperkuat pemadaman di medan yang secara geografis tidak bisa dilalui pasukan konvensional. Langkah ini menandai penekanan pada kecepatan akses ke titik api, bukan sekadar penambahan personel di jalur yang sudah terbuka.
Alasan pengerahan unit khusus di medan sulit
Sejumlah lokasi kebakaran di Sumatera Selatan tersebar di area dengan akses darat terbatas. Kondisi itu membuat operasi pemadaman reguler berjalan lambat bila hanya mengandalkan jalur konvensional. Tim Alfa disebut sebagai opsi untuk menutup celah tersebut melalui kemampuan manuver yang lebih fleksibel.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyatakan kesiapan menyiapkan formasi yang relevan. Ia menjelaskan komposisi bisa mencakup unit terjun bebas, paramotor, dan teknik fast-roping. Dengan skema itu, personel diharapkan tiba lebih cepat di titik yang selama ini sulit dijangkau kendaraan atau jalan setapak.
Dukungan udara dan peralatan darat diperkuat
Selain personel khusus, Presiden meminta penambahan helikopter water bombing di Sumatera Selatan. Helikopter TNI yang tersedia diinstruksikan segera dikerahkan membantu operasi dari udara. Kombinasi serangan air dari langit dan pergerakan di darat dinilai penting agar api tidak meluas ke lahan sekitar.
Di sisi darat, pemerintah menyiapkan 20 unit ekskavator untuk memperkuat kanal serta 500 unit pompa dan selang guna menyuplai air dari sumur. Seluruh bantuan diarahkan mempercepat pemadaman di area yang masih menyala. Personel lapangan juga didesak melaporkan kendala secepat mungkin agar bantuan tambahan bisa dikirim tanpa penundaan panjang.
Target lahan terbakar dan fokus operasi
Presiden menegaskan target segera memadamkan sekitar 1.900 hektare lahan yang saat ini masih terbakar. Angka itu menjadi acuan kerja bersama antara TNI, instansi sipil, dan pemerintah daerah. Koordinasi di Palembang menjadi titik komando agar distribusi alat dan personel tidak tumpang tindih.
Penekanan pada pelaporan kendala lapangan menunjukkan pendekatan praktis: masalah di lokasi harus naik ke pusat keputusan dengan cepat. Dengan begitu, penambahan helikopter, pompa, atau unit manuver bisa disesuaikan dengan kondisi nyata, bukan hanya perencanaan di atas kertas.
Enam provinsi prioritas dan prediksi puncak risiko
Indonesia sedang meningkatkan upaya penanganan kebakaran hutan di sejumlah wilayah seiring pengaruh fenomena El NiƱo. Badan Nasional Penanggulangan Bencana memprediksi risiko karhutla mencapai puncak antara Agustus dan September 2026. Enam provinsi ditetapkan sebagai prioritas operasi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.
- Sumatera Selatan menjadi fokus rapat koordinasi di Palembang
- Riau dan Jambi masuk daftar prioritas yang berdekatan dengan Sumut
- Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan juga menjadi wilayah waspada
Bagi masyarakat Medan, status prioritas di Riau dan Sumsel menjadi pengingat untuk mengikuti perkembangan kualitas udara pada musim puncak. Meski lokasi api utama berada di luar Sumatera Utara, pola sebaran asap di masa lalu membuat pemantauan regional tetap relevan bagi warga kota dan daerah sekitarnya.
Pemerintah pusat menekankan seluruh sumber daya yang dikerahkan harus mempercepat padamnya api di lahan yang masih aktif. Kesiapan TNI menyiapkan unit khusus, penambahan helikopter, serta dukungan ekskavator dan pompa menjadi rangkaian langkah yang diumumkan dalam rapat di Palembang. Pelaksanaan di lapangan akan menentukan seberapa cepat target 1.900 hektare dapat diselesaikan.
Sumber: Republika.
