Tag: boikot Adidas

  • Iklan Adidas dengan Mantan Tentara Israel Picu Respons Beragam Konsumen

    Iklan Adidas dengan Mantan Tentara Israel Picu Respons Beragam Konsumen

    Seruan boikot Adidas kembali menjadi perbincangan publik setelah merek olahraga asal Jerman itu menampilkan figur mantan tentara Israel dalam kampanye penjualan. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara yang akrab dengan produk sportwear global, polemik ini menyentuh pertimbangan etis saat memilih sepatu dan perlengkapan olahraga.

    Kampanye dimaksud mempromosikan layanan sepatu satuan bagi penyandang disabilitas yang mengalami amputasi. Dalam materi iklan, Shalev Biton terlihat mencoba sepatu di toko di Israel, lalu memakainya saat berlari di ruang terbuka. Kehadiran latar belakang militernya memicu reaksi di media sosial sekaligus pertanyaan soal sensitivitas merek internasional.

    Latar kontroversi kampanye sepatu satuan

    Adidas dikenal luas di Indonesia, termasuk di Medan, sebagai penyedia sepatu lari, jersey, dan perlengkapan gym. Namun pemilihan talent iklan kali ini dinilai sebagian warga bertolak belakang dengan isu kemanusiaan yang banyak diikuti publik, khususnya terkait Palestina.

    Perusahaan belum menjadi fokus pembahasan teknis produk, melainkan keputusan komunikasi merek. Publik menyoal apakah riset figur kampanye sudah mempertimbangkan konteks geopolitik yang sensitif bagi konsumen di banyak negara, termasuk Indonesia.

    Mahasiswa soroti kehati-hatian pemilihan figur

    Rio Arief Pradira, mahasiswa berusia 22 tahun, mengaku baru mengetahui polemik tersebut. Meski bukan pengguna Adidas, ia menilai perusahaan wajib lebih cermat menempatkan tokoh dalam campaign agar tidak bertentangan dengan nilai yang dianut calon pembeli.

    Rio menuturkan, sikap merek dapat memengaruhi pilihannya kelak bila hendak membeli produk olahraga. Untuk sementara ia lebih melirik merek lain karena perhatiannya pada persoalan Palestina. Pernyataan itu disampaikannya pada Selasa, 8 September 2026.

    Sandi Aryawan, 23 tahun, juga mahasiswa, mengetahui isu ini lewat media sosial. Ia menekankan agar perusahaan global memasukkan pertimbangan kemanusiaan saat menetapkan wajah iklan. Menurutnya, Adidas perlu memberi penjelasan resmi. Jika ada kekeliruan, permintaan maaf dan keterangan terbuka dinilai langkah yang tepat.

    Pengguna setia: kontroversi tak ubah kebiasaan beli

    Berbeda dari dua mahasiswa tersebut, Dedi Budiatmo, pekerja swasta dan pengguna Adidas sejak masa sekolah, menyatakan polemik tidak mengubah keputusannya. Ia tetap memakai dan membeli produk merek itu karena sudah terbiasa dan menyukainya sejak lama.

    Bagi Dedi, penampilan mantan tentara Israel dalam iklan bukan soal yang membuatnya berhenti. Ia menegaskan pandangan masyarakat bisa berbeda-beda, dan pilihannya tetap pada kenyamanan serta loyalitas merek yang sudah dibangun bertahun-tahun. Wawancara dengannya berlangsung di Jakarta pada hari yang sama.

    Arti isu ini bagi konsumen sportwear di Medan

    Di kota Medan, toko olahraga dan mal ramai menjual sepatu serta apparel Adidas berdampingan dengan merek rival. Perdebatan boikot biasanya merambat lewat unggahan media sosial, grup komunitas lari, dan percakapan di kalangan mahasiswa. Tanpa mengubah fakta nasional di atas, pola konsumsinya tetap beragam: ada yang menunda pembelian, ada yang mengabaikan isu dan fokus pada kualitas produk.

    Secara umum, respons yang terekam menunjukkan tiga arus. Pertama, konsumen yang menuntut kepekaan merek terhadap isu kemanusiaan. Kedua, pihak yang meminta klarifikasi resmi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ketiga, pengguna setia yang memisahkan preferensi pribadi dari kontroversi figur iklan.

    • Mahasiswa nonpengguna cenderung menimbang merek lain untuk sementara.
    • Desakan penjelasan dan permintaan maaf muncul jika dianggap ada kekeliruan kurasi talent.
    • Pengguna lama menekankan loyalitas dan hak berbeda pendapat.

    Bagi industri ritel olahraga, episodium ini menjadi pengingat bahwa kampanye global langsung terbaca di pasar lokal. Konsumen Indonesia, termasuk di Sumatera Utara, semakin aktif menautkan nilai sosial dengan keputusan belanja. Transparansi merek dan konsistensi pesan dinilai krusial agar kepercayaan tidak terkikis.

    Selama belum ada pernyataan resmi yang dirinci dalam laporan awal tersebut, ruang diskusi publik diperkirakan masih berlanjut di linimasa. Pembaca di Medan dapat menjadikan ragam tanggapan di atas sebagai bahan pertimbangan, sambil menunggu perkembangan komunikasi dari pihak perusahaan.

    Sumber: Republika.

    Tag: boikot Adidas, iklan Adidas, mantan tentara Israel, konsumen olahraga, respons mahasiswa, merek sportwear, isu Palestina, Medan

  • Iklan Sepatu Adidas Libatkan Eks Prajurit Israel Picu Gelombang Kecaman

    Iklan Sepatu Adidas Libatkan Eks Prajurit Israel Picu Gelombang Kecaman

    Gelombang boikot Adidas menguat setelah produsen olahraga asal Jerman itu menampilkan mantan tentara Israel dalam kampanye layanan sepatu bagi penyandang disabilitas. Iklan yang beredar memperlihatkan Shalev Biton mencoba sepatu di gerai di Israel, lalu berlari di ruang terbuka. Bagi banyak aktivis, langkah pemasaran itu dinilai menyinggung korban konflik di Gaza dan memicu reaksi keras di media sosial, termasuk di kalangan konsumen Indonesia yang memantau isu ini dari kota-kota besar seperti Medan.

    Perusahaan menghadapi tuduhan kurang peka terhadap penderitaan warga Palestina. Koordinator kampanye boikot menyebut tayangan tersebut sebagai bentuk penghinaan, terutama karena identitas tokoh iklan melekat pada statusnya sebagai mantan anggota pasukan Israel. Isu ini cepat merambat lintas negara dan menyentuh diskusi publik di platform daring.

    Apa yang Ditampilkan dalam Kampanye Adidas

    Materi promosi Adidas menyoroti layanan di toko fisik untuk pelanggan berkebutuhan khusus. Biton, yang kehilangan kaki akibat luka dalam konflik Israel-Gaza pada 2021, ditampilkan menjalani proses fitting hingga beraktivitas lari di luar ruangan. Narasi visual menekankan pemulihan dan mobilitas melalui produk olahraga.

    Pendekatan itu justru menjadi titik tembak kritik. Sejumlah pihak menilai Adidas mengangkat sosok yang pernah terlibat dalam operasi militer di wilayah yang hingga kini menyisakan trauma massal. Bagi penentang kampanye, framing “inspiratif” tidak bisa dipisahkan dari konteks politik dan kemanusiaan yang menyertai latar belakang tokoh tersebut.

    Kritik Aktivis dan Tuduhan Normalisasi Kekerasan

    Stephanie Westbrook, koordinator kampanye boikot olahraga untuk Kampanye Palestina bagi Boikot Akademik dan Kebudayaan terhadap Israel (PACBI), menyatakan kemarahan publik seharusnya sudah dapat diantisipasi perusahaan. Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar ketidaksensitifan merek, melainkan hinaan bagi keluarga Palestina yang kehilangan nyawa atau anggota tubuh akibat serangan Israel.

    Westbrook menegaskan bahwa identitas Biton sebagai tentara, cedera saat operasi ke Gaza, serta posisinya dalam struktur militer negara yang dituduh menjalankan pendudukan ilegal dan praktik diskriminatif, membuat kampanye tersebut berisiko menormalisasi kekerasan. Ia menilai Adidas memberi ruang citra yang dapat melemahkan tekanan akuntabilitas internasional.

    • Seruan boikot menyasar produk dan citra merek secara daring.
    • Aktivis menekankan konteks korban sipil Palestina, bukan semata isu pemasaran.
    • Tekanan publik menuntut perusahaan meninjau ulang pilihan duta kampanye.

    Data Amputasi di Gaza dan Kontras dengan Narasi Iklan

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 5.000 hingga 6.000 warga Gaza menjalani amputasi hingga awal Oktober 2025, bertepatan dengan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Angka itu bagian dari sekitar 42.000 warga yang mengalami cedera permanen selama konflik berkepanjangan sekitar dua tahun.

    Kondisi lapangan tetap suram akibat pembatasan bantuan kemanusiaan. Sementara iklan menampilkan mantan tentara yang kembali berlari, lebih dari seribu atlet Palestina dilaporkan tewas dalam perang di Gaza. Ratusan pesepak bola muda kehilangan anggota tubuh dan membentuk tim sepak bola amputasi sebagai cara bertahan serta merawat sisa harapan di tengah kehancuran infrastruktur dan duka kolektif.

    Kontras itulah yang membuat banyak pihak menilai timing dan pilihan tokoh iklan Adidas tidak tepat. Olahraga, yang semestinya menjadi ruang pemulihan inklusif, dianggap dialihkan menjadi alat pencitraan yang abai pada penderitaan pihak yang paling terdampak.

    Dukungan Tokoh Publik dan Gema di Indonesia

    Aktor Spanyol Javier Bardem termasuk tokoh yang menyerukan boikot. Ia membagikan materi kampanye penolakan di media sosial. Penulis Susan Abulhawa dan Fatima Bhutto, serta banyak pengguna daring asal Palestina, turut memperkuat tekanan publik terhadap merek tersebut.

    Di Indonesia, perbincangan serupa muncul di linimasa dan grup konsumen. Pembaca di Sumatera Utara, termasuk Medan, umumnya mengenal Adidas sebagai merek ritel yang mudah dijumpai di pusat perbelanjaan. Tanpa menunggu imbauan resmi lokal, sebagian warga memilih menunda pembelian sebagai bentuk solidaritas atas isu kemanusiaan Gaza yang sudah lama menjadi perhatian publik nasional.

    Perusahaan sejauh ini berada di bawah sorotan karena memilih wajah kampanye yang sarat muatan politik. Apakah Adidas akan menarik materi, menyusun klarifikasi, atau menahan diri tanpa perubahan, masih menjadi pertanyaan yang dipantau aktivis dan konsumen. Yang jelas, reputasi merek global kini diuji oleh standar etika yang lebih ketat dari sekadar kreativitas iklan.

    Bagi khalayak yang mengikuti isu ini, intinya sederhana: keputusan pemasaran di satu negara dapat berbenturan dengan memori kolektif korban di wilayah konflik. Tekanan boikot Adidas menunjukkan bahwa publik menuntut konsistensi merek besar saat berbicara soal inklusi, keadilan, dan tanggung jawab sosial.

    Sumber: Republika.

    Tag: boikot Adidas, konflik Gaza, Shalev Biton, amputasi Palestina, IDF, solidaritas Palestina, merek olahraga, kritik iklan

Blackjack Terlihat Sederhana tetapi Kenapa Keputusan Hit atau Stand Bisa Mengubah Peluang Jackpot Terlihat Semakin Besar tetapi Apa Hubungannya dengan Peluang Mendapatkannya House Edge Kecil Sering Dianggap Menguntungkan tetapi Begini Cara Membaca Angkanya Volatilitas Tinggi dan Rendah Apa Bedanya dan Kenapa Pengalaman Bermain Bisa Berubah Drastis Sudah Banyak Putaran tetapi Bonus Belum Muncul Apa yang Sebenarnya Terjadi RNG Sering Disebut Acak tetapi Bagaimana Sistem Ini Sebenarnya Menentukan Setiap Putaran Simbol Hampir Membentuk Bonus Kenapa Momen Near Miss Terasa Begitu Meyakinkan Bonus Buy Memang Langsung Membuka Fitur tetapi Apa yang Berubah dari Permainan Biasa Kenapa Angka Kemenangan Besar Lebih Mudah Diingat daripada Puluhan Putaran Biasa Autoplay dan Spin Manual Terasa Berbeda tetapi Apakah Mekanismenya Benar Benar Berbeda Blackjack Terlihat Sederhana tetapi Kenapa Keputusan Hit atau Stand Bisa Mengubah Peluang Jackpot Terlihat Semakin Besar tetapi Apa Hubungannya dengan Peluang Mendapatkannya House Edge Kecil Sering Dianggap Menguntungkan tetapi Begini Cara Membaca Angkanya Volatilitas Tinggi dan Rendah Apa Bedanya dan Kenapa Pengalaman Bermain Bisa Berubah Drastis Sudah Banyak Putaran tetapi Bonus Belum Muncul Apa yang Sebenarnya Terjadi RNG Sering Disebut Acak tetapi Bagaimana Sistem Ini Sebenarnya Menentukan Setiap Putaran Simbol Hampir Membentuk Bonus Kenapa Momen Near Miss Terasa Begitu Meyakinkan Bonus Buy Memang Langsung Membuka Fitur tetapi Apa yang Berubah dari Permainan Biasa Kenapa Angka Kemenangan Besar Lebih Mudah Diingat daripada Puluhan Putaran Biasa Autoplay dan Spin Manual Terasa Berbeda tetapi Apakah Mekanismenya Benar Benar Berbeda