Konferensi manajemen Asia-Pasifik kembali menjadi ruang pertemuan lintas negara ketika The 6th Asia Pacific Management Research Conference (APMRC) digelar pada 26–28 Agustus 2026. Acara yang diselenggarakan PPM School of Management ini menghadirkan 128 presenter dari sembilan negara untuk mengupas peran praktik manajemen di tingkat lokal dalam mendorong perubahan global yang lebih berkelanjutan. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, forum semacam ini relevan karena banyak kampus serta pelaku usaha daerah menghadapi tekanan serupa: persaingan, transformasi digital, dan tuntutan tata kelola yang adaptif.
Tema resmi kegiatan berbunyi “Driving Global Change Through Local Management Practices for a Sustainable Future”. Melalui tema tersebut, panitia menekankan bahwa solusi manajemen tidak selalu seragam. Nilai budaya, karakter masyarakat, dan kondisi bisnis setempat dinilai perlu menjadi dasar perumusan pendekatan agar hasil riset maupun praktik lapangan dapat diterapkan secara efektif.
Skala peserta dan negara yang terlibat
Data resmi konferensi mencatat 128 presenter. Dari jumlah itu, 47 orang hadir secara luring, sementara 81 lainnya mengikuti secara daring. Keberagaman asal negara menjadi salah satu daya tarik utama: Indonesia, Australia, Bangladesh, India, Italia, Jepang, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Komposisi tersebut memperlihatkan jangkauan Asia-Pasifik yang diperluas dengan partisipasi dari luar kawasan.
Format hibrida memungkinkan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa tetap saling bertukar temuan tanpa terbatas jarak geografis. Interaksi antara sesi tatap muka dan daring juga membuka peluang kolaborasi riset lanjutan, termasuk topik yang menyentuh usaha menengah, rantai pasok, serta tata kelola organisasi di wilayah berkembang.
Pesan ketua penyelenggara soal keragaman perspektif
Chairwoman of The 6th APMRC, Aprihatiningrum Hidayati, menyampaikan bahwa keragaman sudut pandang penting karena tantangan global jarang bisa dijawab dengan satu cetakan pendekatan saja. Menurutnya, praktik manajemen perlu mempertimbangkan nilai, budaya, situasi bisnis, dan ciri masyarakat di tingkat lokal agar solusi yang lahir benar-benar dapat dijalankan dan bertahan lama.
Penekanan pada konteks lokal ini sejalan dengan kebutuhan daerah di Indonesia, termasuk kawasan Sumatera. Banyak organisasi di Medan, misalnya, menyeimbangkan standar nasional atau internasional dengan kebiasaan kerja, struktur pasar, dan kapasitas sumber daya manusia setempat. Diskusi di APMRC memberi kerangka konseptual yang dapat diuji kembali di lapangan oleh dosen, mahasiswa pascasarjana, maupun manajer perusahaan daerah.
Isu strategis di balik tema pembangunan berkelanjutan
Konferensi menyoroti isu-isu strategis seputar bagaimana praktik manajemen lokal berkontribusi pada perubahan yang lebih luas. Fokusnya bukan sekadar teori, melainkan jembatan antara riset dan penerapan: mulai dari pengambilan keputusan organisasi, inovasi proses, hingga penyesuaian model bisnis agar selaras dengan tujuan berkelanjutan.
Dengan mempertemukan lintas profesi—akademisi, praktisi, dan mahasiswa—APMRC ke-6 berupaya memperkuat ekosistem pengetahuan manajemen di kawasan. Presentasi ilmiah menjadi sarana menguji temuan, membandingkan studi kasus antarnegara, serta merumuskan agenda riset yang lebih responsif terhadap dinamika ekonomi dan sosial.
- 128 presenter total, kombinasi luring dan daring
- Sembilan negara peserta di kawasan Asia-Pasifik dan luar kawasan
- Tema inti: praktik manajemen lokal untuk masa depan berkelanjutan
- Penyelenggara: PPM School of Management
Mengapa forum ini penting bagi jaringan akademisi Sumut
Meskipun lokasi pemberitaan berpusat di Jakarta, substansi konferensi memiliki nilai guna bagi perguruan tinggi dan komunitas bisnis di Sumatera Utara. Dosen dan peneliti di Medan kerap mengkaji UMKM, logistik pelabuhan, industri kreatif, serta transformasi layanan publik—tema yang bersinggungan dengan manajemen kontekstual. Paparan lintas negara di APMRC dapat menjadi rujukan pembanding metodologi dan praktik baik tanpa mengabaikan karakteristik lokal.
Ke depan, hasil diskusi dan jejaring yang terbentuk selama 26–28 Agustus 2026 diharapkan memperkaya publikasi ilmiah, kerja sama kampus, serta penerapan manajerial di organisasi. Bagi pembaca Warta Sumut, intinya jelas: tantangan global menuntut jawaban yang membumi, dan praktik manajemen lokal yang teruji tetap menjadi fondasi perubahan yang berkelanjutan.
Dengan jumlah presenter yang substansial dan cakupan negara yang luas, APMRC ke-6 menegaskan posisi konferensi sebagai salah satu forum penting bagi pengembangan ilmu manajemen di kawasan. Dokumentasi temuan peserta serta pernyataan penyelenggara menjadi catatan bahwa keberlanjutan tidak hanya soal kebijakan makro, tetapi juga cara organisasi sehari-hari dikelola sesuai konteksnya.
Sumber: Sindo News.
