Harga minyak dunia kembali bergerak liar pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memanas di kawasan Selat Hormuz. Kontrak berjangka meroket lebih dari 3 persen seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan aliran energi global yang sudah berlangsung enam bulan.
Lonjakan ini langsung menjadi sorotan karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak dunia. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, pergerakan harga mentah internasional sering menjadi acuan awal yang dipantau terkait stabilitas pasokan dan tekanan biaya energi di dalam negeri, meski kebijakan harga BBM tetap ditentukan pemerintah pusat.
Lonjakan Brent dan WTI dalam Sehari
Pada pukul 09.03 GMT, kontrak minyak Brent tercatat naik 3,15 dolar AS atau sekitar 3,58 persen menjadi 91,25 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,96 dolar AS atau 3,55 persen ke level 86,36 dolar AS per barel.
Angka tersebut mencerminkan respons cepat pasar terhadap berita serangan militer terbaru. Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai serangan di Timur Tengah serta bayang-bayang gangguan pasokan lanjutan menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak dunia pada sesi tersebut.
Serangan di Pulau Larak dan Balasan Teheran
Pasukan Amerika Serikat dilaporkan menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang terletak di Selat Hormuz, pada hari Minggu. Aksi itu disebut sebagai serangan AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli.
Media Iran kemudian memberitakan bahwa Garda Revolusi Iran membalas dengan menyerang dua pangkalan udara Amerika Serikat di Yordania. Rangkaian aksi saling balas ini memperkuat narasi bahwa konflik belum mereda, melainkan kembali memasuki fase eskalasi singkat yang cukup untuk mengguncang sentimen pasar energi.
Selat Hormuz dan Risiko Pasokan Global
Kekhawatiran utama investor bukan hanya pada serangan itu sendiri, melainkan potensi terganggunya arus perdagangan minyak melalui Selat Hormuz. Jalur laut tersebut krusial bagi ekspor energi sejumlah produsen utama, sehingga setiap ketegangan di sekitarnya selalu direspons dengan premium risiko pada harga minyak dunia.
Staunovo menekankan bahwa pelaku pasar kini akan mencermati apakah situasi kawasan dapat mereda atau justru memburuk. Jika eskalasi berlanjut, tekanan pada rantai pasok global berpotensi bertahan lebih lama dan memengaruhi perhitungan impor energi di banyak negara, termasuk Asia.
- Brent naik menjadi 91,25 dolar AS per barel
- WTI menguat ke 86,36 dolar AS per barel
- Serangan AS di Pulau Larak menargetkan dua peluncur rudal
- Iran dikabarkan membalas ke pangkalan udara AS di Yordania
Dampak Sentimen bagi Pasar dan Konsumen
Meski harga di bursa berjangka London dan Amerika tidak otomatis sama dengan harga jual di spbu Medan, pergerakan tajam seperti ini biasanya menjadi sinyal awal bagi analis dan pembuat kebijakan. Volatilitas tinggi mendorong importir dan kilang untuk meninjau ulang biaya serta jadwal pengadaan.
Konflik yang telah memasuki bulan keenam memperpanjang ketidakpastian. Selama jalur Hormuz masih menjadi titik rawan, setiap berita serangan baru berpeluang memicu spekulasi dan lonjakan harian yang signifikan, seperti yang terjadi pada Senin kemarin.
Ke depan, stabilitas harga minyak dunia sangat bergantung pada kemampuan pihak-pihak terkait meredam tensi militer. Tanpa de-eskalasi yang jelas, pasar diperkirakan tetap waspada dan rentan terhadap berita geopolitik dari Timur Tengah. Pemantauan rutin atas data pasokan serta pernyataan resmi dari produsen utama akan menjadi penentu arah harga dalam pekan-pekan mendatang.
Sumber: Sindo News.

