Upaya penanaman mangrove kembali digelar di pesisir utara Jawa sebagai respons terhadap abrasi dan tekanan perubahan iklim. Menarini Indonesia menanam total 1.600 bibit mangrove di kawasan Jawa Barat dan Jakarta dalam program bertajuk Roots of Hope, yang dikaitkan dengan komitmen tanggung jawab sosial sekaligus target Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan.
Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, isu perlindungan garis pantai ini relevan karena wilayah pesisir timur Sumut juga menghadapi tekanan serupa dari gelombang dan alih fungsi lahan. Pola aksi di Bekasi dan Jakarta Utara dapat menjadi rujukan pembelajaran tata kelola ekosistem mangrove di daerah lain, tanpa mengubah fakta bahwa kegiatan ini berlangsung di lokasi yang disebut di atas.
Rangkaian aksi di Babelan dan Angke Kapuk
Kegiatan diawali dengan penanaman 1.500 bibit mangrove di garis pantai Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Langkah tersebut diposisikan sebagai penguatan ekosistem pesisir utara Jawa sekaligus momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Rangkaian kemudian ditutup dengan penanaman simbolis 100 bibit di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, Jakarta Utara. Akumulasi kedua lokasi menghasilkan 1.600 bibit mangrove yang ditanam dalam satu program terpadu.
Komitmen CSR terintegrasi target ESG
President Director Menarini Indonesia, Idham Hamzah, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bukti integrasi program CSR dengan target ESG. Menurut pernyataannya pada Jumat, 28 Agustus 2026, penanaman kumulatif tersebut merespons krisis iklim, melindungi garis pantai dari abrasi, serta membangun ekosistem yang efektif menyerap emisi karbon.
Tema Roots of Hope digambarkan mencerminkan visi jangka panjang perusahaan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat pesisir yang hidupnya bergantung pada stabilitas ekosistem pantai.
Fungsi ekologis mangrove di kawasan rawan
Ekosistem mangrove di Babelan dan Angke Kapuk diharapkan memperkuat fungsi alami pesisir dalam menghadapi abrasi, penurunan permukaan tanah, dan kenaikan muka air laut. Selain menjadi pelindung fisik pantai, mangrove menyediakan habitat bagi biota laut dan mendukung pemulihan area pemijahan atau spawning ground.
Keanekaragaman hayati pesisir menjadi salah satu sasaran tidak langsung dari penanaman. Dengan memulihkan tutupan vegetasi pantai, peluang pemulihan rantai makanan laut dan stabilitas sedimen di zona intertidal dinilai lebih terbuka, sepanjang perawatan bibit berjalan konsisten setelah tanam.
- Pelindung alami dari abrasi dan gelombang
- Penyerap karbon untuk mitigasi emisi
- Habitat dan area pemijahan biota laut
- Penyangga sosial-ekonomi warga pesisir
Manfaat berlapis bagi masyarakat pesisir
Melalui penanaman tersebut, perusahaan berharap kontribusi lingkungan memberi dampak ekologis yang berkelanjutan. Stabilitas sosial dan ekonomi komunitas yang bergantung pada hasil laut serta jasa lingkungan pesisir juga menjadi pertimbangan dalam desain program.
Bagi daerah lain, termasuk kawasan pesisir di sekitar Selat Malaka yang akrab bagi warga Medan, pendekatan serupa menekankan pentingnya kolaborasi dunia usaha, pemerintah daerah, dan warga setempat. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah bibit, tetapi dari kelangsungan tumbuh, pemantauan, dan pelibatan masyarakat dalam perawatan jangka panjang.
Secara keseluruhan, Roots of Hope menempatkan mangrove sebagai benteng hijau menghadapi tekanan iklim di dua titik strategis pesisir utara Jawa. Dokumentasi jumlah bibit, lokasi Desa Hurip Jaya di Babelan, serta TWA Angke Kapuk menjadi kerangka fakta yang perlu diikuti dengan evaluasi pertumbuhan di lapangan pada periode berikutnya.
Sumber: Liputan6.
