Bagi banyak muslimah di Medan dan wilayah Sumatera Utara, membaca surat al waqiah menjadi amalan rutin yang dijalankan dengan penuh harap. Surah ini sering dikaitkan dengan permohonan kelapangan rezeki, perlindungan dari kesulitan, serta ketenangan batin dalam meniti kehidupan sehari-hari.
Surat Al-Waqiah menempati urutan ke-56 dalam mushaf, berada di juz 27, dan terdiri atas 96 ayat. Golongan surah ini adalah Makkiyah. Namanya diambil dari lafaz Al-Waaqi’ah pada ayat pertama, yang merujuk pada peristiwa hari kiamat. Di luar makna eskatologis itu, tradisi umat mengaitkan bacaan rutin surah ini dengan harapan keberkahan duniawi.
Posisi Surah dan Anjuran Konsistensi Bacaan
Dalam praktik keagamaan yang tersebar di masyarakat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diriwayatkan mendorong para sahabat agar konsisten membaca Al-Waqiah. Tujuannya agar dimudahkan rezeki dan dijauhkan dari kesusahan. Karena itu, amalan ini kerap dianjurkan kepada muslimah yang ingin menjaga kestabilan hidup keluarga.
Keberkahan yang dimaksud bukan janji instan, melainkan dorongan spiritual agar hati tetap bergantung kepada Allah sambil tetap bekerja dan berusaha. Bagi pembaca di Medan, pola ini sejalan dengan kebiasaan banyak majelis taklim yang menekankan wirid malam setelah salat Isya atau sebelum tidur.
Riwayat Abdullah bin Mas’ud dan Pesan untuk Anak Perempuan
Satu kisah yang sering dikutip berkaitan dengan sahabat Abdullah bin Mas’ud ketika sakit parah. Utsman bin Affan menjenguknya dan menanyakan keluhan, harapan, serta kemungkinan bantuan medis maupun materi. Abdullah bin Mas’ud menekankan dosa yang dikhawatirkan, rahmat Tuhan yang diharapkan, dan menolak tawaran sumbangan karena merasa tidak membutuhkan.
Ketika pembicaraan menyentuh masa depan anak-anak perempuannya, ia menegaskan tidak khawatir mereka jatuh miskin. Ia memerintahkan putri-putrinya membaca Surat Al-Waqiah setiap malam. Ia menyebut pernah mendengar sabda Nabi bahwa siapa yang membaca surah tersebut tiap malam tidak akan mengalami kesulitan selamanya.
Catatan Ulama dan Status Riwayat
Riwayat tersebut dinukil dalam karya sejumlah ulama, antara lain Imam al-Qurthubi, Imam al-Alusi, dan Imam al-Suyuthi. Selain kitab tafsir, nukilan serupa muncul dalam al-Adzkar karya Imam al-Nawawi serta Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Para pengkaji umumnya menilai sanad riwayat ini dhaif.
Meski demikian, dalam tradisi amalan, hadis dhaif masih sering diamalkan untuk fadhailul a’mal selama kedhaifannya tidak parah dan tidak bertentangan dengan prinsip akidah serta hukum yang qath’i. Sikap ini yang membuat bacaan Al-Waqiah tetap hidup di kalangan muslimah tanpa menempatkannya sebagai dalil hukum yang mengikat.
Manfaat Spiritual yang Diharapkan Muslimah
Dalam buku Multi Perspektif Surat Al-Waqiah, Zakia Machdi menyebut bacaan surah ini sebagai amalan yang sangat dianjurkan bagi perempuan. Harapannya mencakup perlindungan dari kemudharatan serta penjagaan dari kefakiran. Manfaat yang dirasakan jamaah biasanya berupa ketenangan, disiplin wirid, dan motivasi untuk tetap berusaha.
- Menjaga konsistensi ibadah malam dan zikir.
- Memperkuat tawakkal saat menghadapi tekanan ekonomi.
- Menjadi pengingat akhirat di tengah kesibukan dunia.
- Mendorong edukasi agama di lingkungan keluarga.
Bagi muslimah pekerja maupun ibu rumah tangga di kota Medan, amalan ini mudah disisipkan tanpa mengganggu tanggung jawab harian. Yang ditekankan adalah keistiqamahan, bukan sekadar membaca saat sedang butuh saja.
Pada akhirnya, Surat Al-Waqiah menjadi pengingat bahwa rezeki dan keberkahan tidak dilepaskan dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Membacanya setiap malam adalah ikhtiar spiritual yang melengkapi usaha nyata, sedekah, serta etika bermuamalah. Semoga konsistensi itu membawa manfaat bagi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Sumber: Sindo News.









